Manusia Kaleng

Ini cerita tentang seorang pria yang bekerja di pabrik besar. Saya sudah melihat dia selama beberapa tahun tapi tidak pernah menaruh perhatian padanya. Saya menganggap orang ini sedikit aneh. Sedikit pendek. Sedikit kotor. Selalu memakai topi tua bewarna merah. Dan selalu membawa sebuah kantong sampah. Dia berjalan keliling di pabrik tua yang besar tersebut pada waktu istirahat dan makan siangnya.

Manusia Kaleng
manusia kaleng | kokris.com

Ilustrasi Khotbah:

Ini cerita tentang seorang pria yang bekerja di pabrik besar. Saya sudah melihat dia selama beberapa tahun tapi tidak pernah menaruh perhatian padanya. Saya menganggap orang ini sedikit aneh. Sedikit pendek. Sedikit kotor. Selalu memakai topi tua bewarna merah. Dan selalu membawa sebuah kantong sampah. Dia berjalan keliling di pabrik tua yang besar tersebut pada waktu istirahat dan makan siangnya.

Hari demi hari, bulan demi bulan selama bertahun-tahun. Hari panas, hari dingin. Selama bertahun-tahun saya mengikutinya ketika dia berjalan ke mobil pickup tua-nya pada hari yang sangat dingin dengan salju turun. Dia ada di sana dengan banyak kantong sampah penuh berisi kaleng-kaleng aluminium. Dia melemparnya ke belakang mobilnya dan masuk ke dalam. Kemudian saya mengambil mobil saya dan kemudian kami balapan sampai ke pintu keluar dari tempat parkir yang luas dan kosong ini.

manusia kaleng | Kokris.com

Hari ini, saya sedang memperbaiki sebuah mesin rusak di pabrik ini dan manusia kaleng ini datang dengan kantongnya memunguti kaleng-kaleng. Manajer saya berdiri di sana karena mesin yang sedang saya perbaiki sudah "macet" selama beberapa jam, dia khawatir produksi akan terganggu. Saya sudah selesai memperbaiki ketika berdiri dan mendengar manajer saya bertanya kepada manusia kaleng tersebut apa yang diperbuatnya terhadap kaleng-kaleng tersebut. Saya tidak pernah memikirkan pertanyaan tersebut karena saya selalu berasumsi bahwa manusia kaleng ini akan menghancurkan kaleng-kaleng tersebut di tempat daur ulang.

Manusia kaleng tersebut menjawab, "Saya memberikan kaleng-kaleng ini ke tetangga saya, dia menderita epilepsi dan tidak dapat memperoleh pekerjaan." Saya terkejut, "Maksudnya kamu mengumpulkan semua kaleng-kaleng itu selama bertahun-tahun untuk memberikannya kepada tetanggamu???"

"Ini tidak membantu banyak," dia berkata, "tapi saya memberikan semua kepadanya. Dia tidak dapat bekerja. Dia memiliki banyak kekurangan." Tepat di sana, di pabrik itu, saya menemukan diri saya seperti ditampar di hadapan Yesus. Manusia kaleng ini mengenakan kaos dan sebuah topi tua merah dan memegang sebuat kantong sampah penuh dengan kaleng-kaleng aluminium, dan dia menyatakan Kristus!

Sungguh satu momen yang paling merendahkan hati saya seumur hidup.

"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7)